Selasa, 7 Agustus 2018
Sejak usia 3 tahun, Dhika lebih tertarik bermain dengan teman sebayanya dibandingkan main sama Mama , Mama syediih. Mungkin karena Mamanya enggak kreatif dan males nyari kegiatan yang FUN. Iya aku emang satu tahun belakangan mengalami demotifasi. Enggak menggebu-gebu seperti Uforia saat pertama kali berhenti kerja dulu. Dulu karena sibuk kerja dan saat dirumah moment ketemu Dhika yah cuman mengASIhi lanjut tidur sampe pagi. So, pas tahun pertama berhenti kerja jadi begitu semangat menstimulasi semua kemampuan Dhika. Mau bikin mainan DIY hayuk aja! Mau baca buku sampe berpuluh kali dengan judul yang sama hayuk! Mau mbolang seharian yah ayuk aja. Sampe detail banget bikin portofolio juga, gak ada moment yang tak di dokumentasikan. Apalagi dengan melihat postingan beberapa Ibu IIP yang lain, waah jadi turut serta membakar semangat dalam mendampingi tumbuh kembang ananda.Tapi seiring berjalannya waktu, dengan semakin banyaknya kegiatan rumah tangga yang bisa dibilang gak ada habisnya. Tumpukan cucian kotor dan antrian piring dan aneka becah belah kotor di sink yang selalu miscall-miscall, lantai kotor yang belum disapu pel, mainan yang berserakan di seluruh area rumah, dan disaat yang sama Dhika minta perhatian lebih. Acchhhhggrr pengen kabur saja rasanya. Kepala cenat cenut! Terus menerus 24jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari setahun, berperan sebagai ibu tanpa cuti dan libur ternyata bikin sumbu sabar jadi pendek. Berinteraksi dan berkomunikasi hanya dengan bayi atau balita secara terus menerus ternyata membuat jiwaku jadi agak kurang waras. Hati ini jadi kemrungsung, jauh dari rasa syukur. Ada rasa rindu bercanda dengan candaan dan obrolan dengan orang dewasa. Tak bisa dipungkiri ada semacam periode jetlag dari bekerja diranah publik kemudian banting setir memilih bekerja di ranah domestik. Ah harusnya aku mengingat kembali tujuan awalku, kenapa harus "pulang". Belum lagi aku juga mengalami kecanduan gadget. Sosial media yang dulunya sebagai media penulisan portofolio Dhika berubah fungsi jadi sekedar scroll-scroll gak jelas yang tak kunjung usai hingga berjam-jam per harinya. Sudah merencanakan untuk membuat manajent gadget tapi belum terlaksana juga. Apalagi drakor yang juga turut jadi candu. Hingga banyak sekali menyita waktu tanpa manfaat. Mulai mengabaikan Dhika dan pekerjaan rumah. Tidak adanya keterikatan waktu dengan pihak manapun jadi makin memperparah keadaan. Makin malas pulalah aku. Iya jika dulu masih terikat jam kerja dengan pihak lain, mau gak mau harus mengikuti ritme jamnya. Atau misal Dhika sudah terikat dengan jam sekolah, secara gak langsung hal itulah yang akan "memaksa" kita untuk mematuhinya. Ketiadaan jam "kerja" inilah yang semakin membuatku terlena mensia-siakan waktu. Memang setiap penghujung malam selalu ada perasaan menyesal tapi tak kunjung ada perubahan. Masih saja keesokan harinya mengulangi kesalahan yang sama. Sangat berbeda dengan awal aku berkomitmen untuk "bekerja" di ranah domestik. Aku begitu patuh menerapkan 7 to 7 dari Bu Septi Peni Wulandani. Manajemen waktu yang baik membuat semuanya terkendali dengan baik.
Sejak usia 3 tahun, Dhika lebih tertarik bermain dengan teman sebayanya dibandingkan main sama Mama , Mama syediih. Mungkin karena Mamanya enggak kreatif dan males nyari kegiatan yang FUN. Iya aku emang satu tahun belakangan mengalami demotifasi. Enggak menggebu-gebu seperti Uforia saat pertama kali berhenti kerja dulu. Dulu karena sibuk kerja dan saat dirumah moment ketemu Dhika yah cuman mengASIhi lanjut tidur sampe pagi. So, pas tahun pertama berhenti kerja jadi begitu semangat menstimulasi semua kemampuan Dhika. Mau bikin mainan DIY hayuk aja! Mau baca buku sampe berpuluh kali dengan judul yang sama hayuk! Mau mbolang seharian yah ayuk aja. Sampe detail banget bikin portofolio juga, gak ada moment yang tak di dokumentasikan. Apalagi dengan melihat postingan beberapa Ibu IIP yang lain, waah jadi turut serta membakar semangat dalam mendampingi tumbuh kembang ananda.Tapi seiring berjalannya waktu, dengan semakin banyaknya kegiatan rumah tangga yang bisa dibilang gak ada habisnya. Tumpukan cucian kotor dan antrian piring dan aneka becah belah kotor di sink yang selalu miscall-miscall, lantai kotor yang belum disapu pel, mainan yang berserakan di seluruh area rumah, dan disaat yang sama Dhika minta perhatian lebih. Acchhhhggrr pengen kabur saja rasanya. Kepala cenat cenut! Terus menerus 24jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari setahun, berperan sebagai ibu tanpa cuti dan libur ternyata bikin sumbu sabar jadi pendek. Berinteraksi dan berkomunikasi hanya dengan bayi atau balita secara terus menerus ternyata membuat jiwaku jadi agak kurang waras. Hati ini jadi kemrungsung, jauh dari rasa syukur. Ada rasa rindu bercanda dengan candaan dan obrolan dengan orang dewasa. Tak bisa dipungkiri ada semacam periode jetlag dari bekerja diranah publik kemudian banting setir memilih bekerja di ranah domestik. Ah harusnya aku mengingat kembali tujuan awalku, kenapa harus "pulang". Belum lagi aku juga mengalami kecanduan gadget. Sosial media yang dulunya sebagai media penulisan portofolio Dhika berubah fungsi jadi sekedar scroll-scroll gak jelas yang tak kunjung usai hingga berjam-jam per harinya. Sudah merencanakan untuk membuat manajent gadget tapi belum terlaksana juga. Apalagi drakor yang juga turut jadi candu. Hingga banyak sekali menyita waktu tanpa manfaat. Mulai mengabaikan Dhika dan pekerjaan rumah. Tidak adanya keterikatan waktu dengan pihak manapun jadi makin memperparah keadaan. Makin malas pulalah aku. Iya jika dulu masih terikat jam kerja dengan pihak lain, mau gak mau harus mengikuti ritme jamnya. Atau misal Dhika sudah terikat dengan jam sekolah, secara gak langsung hal itulah yang akan "memaksa" kita untuk mematuhinya. Ketiadaan jam "kerja" inilah yang semakin membuatku terlena mensia-siakan waktu. Memang setiap penghujung malam selalu ada perasaan menyesal tapi tak kunjung ada perubahan. Masih saja keesokan harinya mengulangi kesalahan yang sama. Sangat berbeda dengan awal aku berkomitmen untuk "bekerja" di ranah domestik. Aku begitu patuh menerapkan 7 to 7 dari Bu Septi Peni Wulandani. Manajemen waktu yang baik membuat semuanya terkendali dengan baik.
By the way, kok jadi cerita panjang lebar gak jelas. Padahal tadinya mau cerita kejadian pas hari selasa kemaren. Setengah hari aku bantuin Bunda yang lagi panen jagung, ngupas kulit jagung, dibantu beberapa orang saudara dan tetangga. Otomatis Dhika ngikut, karena Papanya lagi istirahat dirumah. Secara hari minggu si Papa sudah sibuk bantuin orangtuanya benerin gudang sebelah rumah. Lanjut kerja shift malam, hari senin seharian nyupirin kita ke Malang buat daftarin adek Di kuliah. Malem-malem balik dari Sidoarjo ke Pandaan, trus lanjut kerja shift malam lagi. So, sekalian ngungsiin Dhika biar gak gangguin Papanya yg lagi istirahat dirumah, Dhika bisa sekaligus ikut berkegiatan di rumah Bunda. Dan Masyallah Dhika begitu menguji kesabaran. Iya sekarang tuh kek abegeh gitu. Lagi sukanya ngelawan kalau dibilangin, suka gak dengerin kalau dipanggil, makin dilarang jadi makin dilakuin. Lagi suka-sukanya main sama temen sebaya yang bisa berjam-jam gak mau pulang, dan selalu berujung tangisan. Selsei bantuin Bunda, Dhika gatel-gatel badannya dan minta mandi. Selesei mandi ku kira dia bakalan tidur siang karena sudah jam 12.30 ternyata malah aku duluan yang tidur. Si anak main-main diluar. Jam setengah tiga, Dhika aku minta untuk menghentikan permainannya dengan pasir dan galahnya. Ya Allah itu badan abis dimandiin uda kayak udang ditepungin. Kotor penuh debu!
Huft uda dikasi jeda waktu tetep gak mau juga. Akhirnya aku paksa, langsung gendong dan ku peluk erat-erat. Dhika tentu saja berontak, mukul aku dan berusaha sekuat tenaga untuk lari keluar lagi. Dhika masih nangis jejeritan, nah kalek neneknya yang ngasih bantuan-bantuan yang gak perlu menurutku. Karena biasanya Dhika akan memuaskan dan menuntaskan emosinya terlebih dahulu, entah nangis sepuasnya saat sedih atau sangat marah, hingga dia berproses, dari mulai minta nagis sampe dia merasa lega, minta dipeluk Mama dulu, diselingi sedikit ungkapan perasaanya sambil minta maaf, hingga dia jadi Happy lagi. Tapi kali ini beda, karena kakek neneknya menawarkan apa saja agar cucunya bisa "segera" diam. Dhika jadi tidak fokus dengan emosi yang dirasakannya karena "keslimur" dengan tawaran dari kakek neneknya. Aku lebih suka melihat Dhika berproses mengelola emosinya. Meski memang butuh kesabaran extra. Tapi saat memeluknya itu bukan hanya Dhika saja yang berusaha merelease emosinya tapi aku juga jadi merasa lebih tenang. Saling berpelukan dan minta maaf. Iya aku selalu minfa maaf duluan sambil menciut tangan dan keningnya. Kemudian setelah Dhika puas menangis, Dhika akan bilang "Maaf Ma, maaf", "Dhika uda lega" sambil terus mengatur nafasnya. Ah rasanya yang begitu indah Nak, melihatmu berhasil menuntaskan emosimu. Buku Emosi dari rabbit hole sangat bermanfaat sekali. Sejak buku itu hadir dirumah, kita belajar tentang macam-macam emosi. Dan Dhika juga sudah terbiasa mengungkapkan perasaannya. Agar Dhika aware dengan apa yang dia rasakan. Karena saat ini, banyak sekali orang dewasa yang bingung dan tidak tahu apa yang dia rasakan. Pengen marah tapi gak tahu kenapa? Kadang sedih dan merasa sepi ditengah keramaian, tanpa tahu harus melabeli perasaannya itu dengan sebutan apa? Buku emosi ini sangat membantu karena emosi yang terlalu abstrak buat anak jadi lebih real karena dibuat se kongkrit mungkin karena hadir dengan model touch in. Dhika dulu sudah bisa melampiaskan emosi kemarahannya dengan baik. Akhir-akhir ini dia jadi begitu agresif, jadi PR untuk meluruskan kembali kalau marah itu boleh, asal tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain, Dhika lagi suka mukul-mukul sekarang dan suka melempar barang saat marah. Kadang mengeluarkan kata kasar. Tapi kali ini sepertinya karena Dhika ngantuk. Terbukti saat nangis jejeritan kemaren, beberapa kali dia sambil menguap. Kenapa sich anak kecil itu kalau lagi ngantuk gak mau ngaku? Selesei nangis, cuci muka dulu, sekalian cuci tangan dan kaki yang uda kotor banget. Iya dicuci doang karena anaknya menolak mandi. Eh dia melek byaaar gak jadi ngantuk, malah asyik main kerumah jefri. Waktu mau magrib dijemput paksa yah nagis lagi jejeritan. Nyampe rumah masih marah-marah, Papanya jadi ikutan emosi, akhirnya dipaksa mandi. Selesei mandi dia nangis dulu, katanya biar lega. Trus dia minta maaf, akupun minta maaf karena uda kasar saat nanganin dia pas lagi berontak. Selesei maaf-maafan, kita ngobrol dari hari ke hati.
Mama : Mas Dhika kenapa, kok marah-marah trus hari ini?
Dhika : Dhika marah sama Mama (lirih)
Mama : Iya, marah kenapa? Gegara apa?
Dhika : (masih sesegukan)
Mama : Dhika lho sekarang kalau dipanggil pura-pura gak denger. Gak mau nurut sama omongannya Mama. Sering marah-marah, kenapa?
Dhika : (masih nangis pelaan)
Mama : Mama harus gimana biar mas Dhika Happy? Mas Dhika ngantuk ta mau tidur?
Dhika : gak mau tidul
Mama : Trus Mama harus gimana biar Dhika Happy lagi?
Dhika : becanda (suaranya liriih)
Mama : (Mak jleb ) Oooh Dhika pengen becanda sama Mama?
Dhika : iya becanda, ketawa (masih misek-misek)
Mama : Ooo jadi Dhika pengen becanda-becanda sambil ketawa-ketawa sama Mama?
Papa : (nyimak)
Dhika : iyaaa
Trus kita bertiga berpelukan. Ya Allah maaf Nak. Ternyata kamu hanya rindu pengen bercanda sama Mama. Iya kamu emang kalau udah bercanda seru, sulit berhenti ketawa padahal kadang itu gak lucu menurut kami. Tapi kamu masih tertawa dengan hal yang sama. Kata orang "Woo ndableg lek guyon". Ah ternyata benar apa kata pepatah, kalau tertawa itu juga suatu kebutuhan dan menyehatkan jiwa.
Mama : Mas Dhika kenapa, kok marah-marah trus hari ini?
Dhika : Dhika marah sama Mama (lirih)
Mama : Iya, marah kenapa? Gegara apa?
Dhika : (masih sesegukan)
Mama : Dhika lho sekarang kalau dipanggil pura-pura gak denger. Gak mau nurut sama omongannya Mama. Sering marah-marah, kenapa?
Dhika : (masih nangis pelaan)
Mama : Mama harus gimana biar mas Dhika Happy? Mas Dhika ngantuk ta mau tidur?
Dhika : gak mau tidul
Mama : Trus Mama harus gimana biar Dhika Happy lagi?
Dhika : becanda (suaranya liriih)
Mama : (Mak jleb ) Oooh Dhika pengen becanda sama Mama?
Dhika : iya becanda, ketawa (masih misek-misek)
Mama : Ooo jadi Dhika pengen becanda-becanda sambil ketawa-ketawa sama Mama?
Papa : (nyimak)
Dhika : iyaaa
Trus kita bertiga berpelukan. Ya Allah maaf Nak. Ternyata kamu hanya rindu pengen bercanda sama Mama. Iya kamu emang kalau udah bercanda seru, sulit berhenti ketawa padahal kadang itu gak lucu menurut kami. Tapi kamu masih tertawa dengan hal yang sama. Kata orang "Woo ndableg lek guyon". Ah ternyata benar apa kata pepatah, kalau tertawa itu juga suatu kebutuhan dan menyehatkan jiwa.